Fakta Tentang Bahasa Indonesia Ini Mungkin Belum Pernah Anda Ketahui

Fakta Tentang Indonesia Ini Mungkin Belum Pernah Anda Ketahui


Sebagai masyarakat Indonesia, Anda mungkin paham bahwa Indonesia terdiri dari banyak sekali pulau serta memiliki keragaman budaya bahkan bahasa. Kenyataan itu mungkin sudah sering Anda dengar di mana-mana. Akan tetapi, tahukah Anda berapa banyak jumlah bahasa yang ada di Indonesia? Kali ini saya ingin sedikit berbagi mengenai bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia.




Mendengar mengenai bahasa daerah, mungkin yang tercetus dalam pikiran Anda adalah bahasa Jawa, Sunda, serta Bali. Tapi Anda harus tahu bahwa ketiga bahasa tersebut hanya sebagian kecil dari bahasa daerah di Indonesia yang sangat banyak jumlahnya. Bahasa yang ada di Indonesia terdiri dari dua rumpun: Austronesia dan NonAustronesia atau Papua atau biasa juga disebut sebagai rumpun Transnewguinea. Sesuai data dari www.ethnologue. com—website resmi yang berisi hasil riset mengenai bahasa-bahasa yang ada di dunia, jumlah total bahasa di Indonesia ada 719 bahasa dengan rincian: 464 bahasa merupakan rumpun Austronesia yang cenderung berada di Indonesia bagian barat dan 255 bahasa merupakan rumpun Papua yang cenderung berada di Indonesia bagian timur.

Akan tetapi, bahasa-bahasa yang menjadi salah satu kekayaan Indonesia itu tidak semuanya masih hidup dan digunakan. Dua belas di antaranya dinyatakan telah punah, yaitu sebagai berikut.

Hoti : merupakan bahasa dari Pulau Seram Timur, Maluku.
Hukumina : merupakan bahasa dari Distrik Tomahu, Palumata, Hukumina, Barat Laut Pulau Buru, area Tengah, Provinsi Maluku.
Hulung : merupakan bahasa dari Desa Hulung, Pulau Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku.
Luon : merupakan bahasa dari pusat utara Pulau Seram Barat dari Teluk Saway, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku.
Mapia : merupakan bahasa dari Kabupaten Manokrawi, Pulau Mapia, kurang lebih 290 km utara, Provinsi Papua Barat.
Moksela : merupakan bahasa dari Provinsi Maluku, kemungkinan Pulau Buru Timur, dekat Kayeli.
Naka‘ela : merupakan bahasa dari Desa Kairatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Barat Daya Seram, Provinsi Maluku.
Nila : merupakan bahasa dari Provinsi Maluku, selatan pusat daerah transmigrasi; enam desa (awalnya dari Pulau Nila di selatan pusat Maluku).
Saponi : merupakan bahasa dari Provinsi Papua, pedalaman Kabupaten Waropen, Kecamatan Waropen Bawah, Desa Botawa.
Serua : merupakan bahasa dari Provinsi Maluku, selatan pulau Seram pusat, area transmigrasi; empat desa.
Ternateño : merupakan bahasa dari Pulau Ternate, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara.
Te’un : merupakan bahasa dari Provinsi Maluku, posisi tengah, selatan Seram daerah lokasi pulau pusat; empat desa.

Selain dua belas bahasa yang telah punah di atas, 76 bahasa juga digolongkan sebagai bahasa yang sekarat menurut www.ethnologue. com. Bahasa yang berstatus sekarat berarti satu-satunya pengguna bahasa yang masih fasih (jika ada) adalah generasi tua (Lauder, 2016:6).

Tentu sangat disayangkan apabila semua bahasa daerah yang ada di Indonesia nantinya akan punah. Mungkin saja kemampuan berbahasa terlihat sepele dan sederhana karena setiap orang memiliki kemampuan tersebut secara alamiah. Mungkin juga, karena arus globalisasi, bahasa daerah terkesan tidak penting lagi bagi sebagian orang sehingga semakin lama semakin sedikit orang yang mau berbahasa daerah. Akan tetapi, bagaimanapun, tidak mungkin ada peradaban (yang di dalamnya termasuk agama, ilmu pengetahuan, dan teknologi) tanpa bahasa (Lauder, 2016:2). Kita juga bisa memahami nilai budaya melalui bahasa. Itulah salah satu pentingnya bahasa daerah. Anda tentu bisa menilai betapa pentingnya bahasa daerah untuk dipertahankan.

Sumber:
Lauder, Multamia R.M.T. 2016. Pencegahan Kepunahan Bahasa-Bahasa Daerah melalui Pembentukan Undang-Undang [Preventing the Extinction of the Regional Languages through Policy Formation]. Paper read at Seminar Nasional Bahasa Ibu IX, “Strategi Pencegahan Kepunahan Bahasa-bahasa Lokal sebagai Warisan Budaya Bangsa.” Denpasar, Bali. 26—27 Februari 2016. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana.

loading...